ummah and their “long sleeping”


Sebuah situs yang cukup sering membuat kepala saya “panas” saat mendengar orang lain menyebutnya adalah http://www.xxx.com(maaf, situs tidak bisa disebutkan). Situs ini berisi tentang percakapan dan perdebatan orang-orang yang yang kelihatannya Islami, tapi yang ada justru sebaliknya(yang ada malah konyol dan terkesan tolol). Situs yang sering diakses oleh orang kurang kerjaan ini sudah menjadi percakapan hangat di kalangan mahasiswa(ya tidak semua mahasiswa sih. Mungkin sebagian kecil mahasiswa fakultas saya saja). Perdebatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku banyak pekerjaan. Ckckck…bagaimana tidak, orang dalam page situs itu isinya percakapan tentang hakikat Tuhan yang sudah jelas kita tidak pernah bisa memahaminya. NON-SENSE!! Tidak beruntung lagi, saya pernah dapat “wejangan” oleh seseorang gara-gara saya mengkritik kebiasaan teman saya yang suka mempertanyakan percakapan-percakapan dari situs TIDAK PENTING itu. Saya sedikit menyindir temen sekelas saya yang kurang pekerjaan itu dengan kata-kata seperti ini “Ah, kamu kurang kerjaan. Analisa ngawur, dalil ngawur, teori ngawur aja di pake’. Kalau mau cari tahu tentang kebenaran ngaji sana. Tanya sama orang yang bener-bener capable dalam bidangnya. Jangan cuma ngutip sepotong ayat saja”. Buat yang pernah dapat bercandaan seperti itu dari saya, maaf ya…g maksud menyakiti koq. Piiis…(^_^)v

Terlepas dari situs itu, satu hal yang ingin saya tekankan di sini adalah KETIDAKPENTINGAN membahas isi dari percakapan dalam situs itu. Saya hanya ingin mengajak semua menengok pada sisi lain yang lebih penting dari hal itu. Sisi lain yang sudah bisa dipastikan setiap dari kita tahu, tapi entah mungkin pura-pura tidak tahu atau bagaimana. Sisi lain yang sering terabaikan baik oleh para penguasa ataupun warganya. Sisi kelam umat Islam sepanjang jaman sejarah peradaban Islam. Sisi lain itu adalah kondisi umat Islam saat ini yang tengah berada dalam lembah keterpurukan. Diakui atau tidak, umat ini sekarang menjadi umat yang sangat rapuh. baik dari segi aqidah maupun tsaqafah. Umat Islam yang dulu selalu diunggulkan dalam segala hal, kini justru menjadi pesakitan, umat Islam yang dulu dimuliakan sekarang menjadi terhinakan, umat Islam yang dulu menjadi suri tauladan dan rujukan bagi para ilmuwan sekarang menjadi umat yang “dipaksa” bodoh dan terbelakang.

Suatu kepiluan di dalam hati saat saya (dan mungkin Anda) melihat anak-anak jalanan mengemis dengan wajah polosnya, nenek-nenek menengadahkan tangan berharap ada rasa iba dari orang yang mondar-mandir di sekitar “pangkalannya”, wanita seolah-olah kehilangan kehormatan dan kemuliaannya karena tergilas arus emansipasi wanita yang tidak ada tempatnya, melihat korban berjatuhan saat Yahudi Israel membumihanguskan bumi Palestina dan negara muslim lainnya dengan brutalnya. Meski itu hanya lewat siaran berita di stasiun TV swasta, saya yakin Anda pun mengakui semua penderitaan umat ini. Lebih memilukan lagi, itu dialami oleh mayoritas umat Islam.

Sungguh, kalau sampai saat ini Anda masih mementingkan hal-hal semacam itu(memikirkan sesuatu yang tidak penting-red), maka saya tidak habis pikir lagi. “Kira-kira masihkah ada belas kasihan dalam rongga-rongga kecil hati Anda?” Bukan bermaksud sok atau apa, tapi ini sekedar untuk direnungi, bukan sekedar tertuju pada Anda, tapi saya juga sebagai orang yang sering lalai dengan “jalan kepayahan” yang ada di depan mata. Bukan lantas untuk mencari yang mana pihak tertuduh maupun pihak tersangka, tapi cobalah perhatikan dengan seksama apa yang ada di sekitar kita.

What’s wrong with this Ummah??

Adakah yang salah dari umat Islam?? Apakah ada yang salah dengan firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 110?? Bukankah dikatakan bahwa umat Islam adalah umat terbaik?? Jadi apa ada yang salah??

“Kamu (umat Islam), adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah…..”(TQS. Ali Imran[3] : 110).

Jika seperti itu wacananya, maka kita patut mengajukan beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan kondisi sekarang,
apa umat ini sudah meninggalkan amar ma’ruf nahiy munkar? Jawaban sederhananya tidak.

Atau ada yang kurang dengan upaya orang-orang dalam beramar ma’ruf nahiy munkar? Jawabannya bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab keterpurukan yang terus-terusan ini?? Jawaban pastinya adalah adanya penomor duaan agama dalam kehidupan. Agama yang saat ini dianggap hanya pantas mengatur ibadah-ibadah ritual pribadi semata. Agama yang bagi sebagian orang dianggap candu yang akan merusak tatanan kehidupan masyarakat jika menerapkannya. Agama yang dipandang sebelah mata dan bisa mengekang wanita jika mereka menggenggamnya. Sekulerisme itu namanya. Biang keladi dari semua penderitaan umat Islam. Sekulerisme yang lahir dari jalan kompromi antara pemuka agama dan ilmuwan itu membuat umat Islam yang sudah terjangkiti olehnya menjadi serba “membebek” alias tidak punya pendirian yang jelas. Kebanyakan orang beraktivitas A, ya ngikut aja melakukan A, tanpa peduli apakah yang dilakukannya termasuk aktivitas yang haram atau sebaliknya. Sekulerisme menjadikan umat Islam yang pemikirannya terkotori olehnya mabuk kepayang oleh kehidupan dunia dan cenderung mengabaikan kehidupan setelahnya. Lebih parah lagi, sekulerisme menjadikan umat Islam suka berkompromi ria dalam hampir segala hal. Tak heran kalau jaman sekarang banyak umat yang menggabungkan ketaatan dan kemaksiatan(STMJ = Shalat Terus Maksiat Jalan), muncul istilah Islam moderat(katanya putih g, hitam g-alias abu-abu), dsb.

It’s time for us to wake up from “our long sleeping”

Fakta sudah banyak bicara bahwa umat ini sudah cukup menderita. Ada yang terlena dengan kondisinya yang cukup bahagia, aman sentosa, ada yang justru sebaliknya. Mereka yang terlena adalah orang-orang yang angkuh, orang-orang yang sama sekali tidak mempedulikan kerusakan di sekitarnya. Atau bisa jadi orang-orang yang “tertidur”, tidak sadar dengan kerusakan yang ada karena minusnya kepekaan dalam penginderaannya. Lain lagi dengan mereka yang tidak terlena dengan kondisinya. Merekalah orang-orang yang sadar akan kerusakan yang ada. Mereka meyakini bahwa perubahan pada sesuatu yang bisa mendatangkan kehidupan yang lebih baik itu merupakan sebuah keharusan dan keniscayaan bagi orang-orang yang masih mempunyai akal sehat.

Cukup sudah umat ini menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang kafir. Sudah saatnya umat ini dibangunkan dari tidur panjangnya. Sudah saatnya umat ini melepas belenggu keterpurukan dan mencoba untuk bangkit. Bangkit menuju tatanan kehidupan yang lebih bermakna, bisa mengembalikan kemuliaan dan martabat umat di mata dunia dengan kembali pada apa yang disyariatkanNya.Hanya ada satu kata untuk kebangkitan ini yaitu dengan Islam. Tak ada pilihan lain!

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (TQS. Al- Jaatsiyah[45]:18)

Kebangkitan meniscayakan orang-orang yang menginginkannya turut berkorban dan melebur dalam perjuangan untuk mewujudkannya. Kebangkitan hanya bisa diwujudkan oleh orang-orang yang mau bangun dari tidurnya, orang-orang yang berani mengambil risiko untuk mewujudkannya. Mereka adalah orang-orang yang berpemikiran maju, bukan orang-orang yang berpemikiran mundur. Kebangkitan tidak akan terwujud jika orang-orang yang menginginkannya malas dan lengah. Pun tidak akan terwujud jika orang-orangnya segan berkorban. Karena kebangkitan itu butuh suatu pengorbananan, butuh merentas “jalan kepayahan” tak ubah dengan apa yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Bangkitnya umat Islam sejalan dengan janji Allah dalam AlQuran :

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman di antara kamu yang beriman dan beramal sholeh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…”(TQS. An Nur [24] :55).

Sekarang pilihan ada di depan kita. Meyakini kemudian menyambut janjiNya dengan mempersembahkan pengorbanan yang kita bisa, atau hanya mau mencukupkan diri dengan kondisi yang ada dan tetap sibuk dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya???

Wallahu alam bi ash shawab, sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu memahaminya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s