Ternyata, menikah tidak semudah dan sesimpel yang dibayangkan


Bismillahirrahmanirrahim….

Asslamualaikum wr wb…

Tulisan ini terinspirasi dari status tmen2 di facebook saya yang sangat konyol. Kebanyakan berisi cinta dan segala aksesoriesnya(dilema,patah hati, jatuh cinta dan sebagainya), serta tak jarang pula status temen2 yang notabene saya kenali sebagai pengemban dakwah juga sepertinya tak luput dari pembahasan isu2 pernikahan. Mereka kelihatan sangat semangat ketika membahas masalah pernikahan(termasuk saya juga. he3)…
Tulisan di facebook saya aslinya berjudul “Are you ready getting merried?”. Ketika saya upload, wah ternyata yang ngasih komentar lumayan banyak. Tidak sekedar kritikan(karena tulisan saya emang masih banyak kurangnya), tapi juga protes tanda tidak setuju dengan apa yang saya tulis. Berikut tulisan saya…

Kesiapan seseorang untuk menikah memanglah tidak bisa diukur dengan hanya sekedar persentase yang natinya akan muncul nilai pastinya berapa, tapi coba kita renungkan mulai dari sekarang, kira-kira seberapa jauh persiapan kita untuk menyambut datangnya masa-masa itu.

Pernikahan bukanlah sekedar menyatukan dua insan yang berbeda (laki2 dan perempuan), bukan sekedar sarana pelampiasan naluri melestarikan jenis (gharizah nau’) manusia, pun sekedar mencari sensasi(macam artis lah). Tapi lebih dari itu, pernikahan adalah suatu hal yang bisa dibilang sesuatu yang sangat sakral, penting, dan yang paling jelas…momen yang tidak bisa dilupakan(soalnya y ini yang paling ditunggu2. *Bagi yang tidak mau ngaku, harus cek ke ahli gizi tuh…*hehe..) . Betapa tidak, pernikahan adalah masa perpindahan tangan(wali-red) dari pihak orang tua yang perempuan ke calon suami. Ini berarti akan menambah beban pengabdiannya tidak hanya pada Allah(dan RasulNya), orang tua, tapi juga pada orang yang akan menjadi suaminya. Begitupun calon suami, dia akan menerima perwalian dari orang tua mempelainya dan dengan segala konsekuensinya (menafkahi, mendidik, memperlakukannya secara ma’ruf dll). Ringan?? Jelas tidak *orang gila mungkin yang menganggapnya ringan* Lalu, bagaimana bisa dikatakan main2? Bagaimana sesuatu yang dianggap penting itu tidak dipersiapkan mulai sekarang??

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri*, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS. Ar Ruum (30) : 21)

Ada seorang senior yang bilang “datangnya jodoh itu sebenarnya tergantung pada diri kita. Kalau kita siap, Allah pun dengan kuasanya akan mendatangkan jodoh kita. Jadi sebenarnya, semakin kita mempersiapkan diri, semakin dekat jodoh kita. “. Dan kalau dipikir2, pernyataan beliau itu memang ada benarnya.

Islam sebagai sebuah sistem kehidupan, juga menyediakan aturan (track) terkait bagaimana cara mendapatkan calon suami/istri, yaitu dengan cara ta’aruf dan khitbah. Di dalam kedua proses inilah laki2 (ikhwan-red) dan perempuan (akhwat-red) bisa saling mengenal lebih jauh. Jelasnya tidak seperti pacaran yang pembicaraanya nglantur ke sana kemari, tapi dalam ta’aruf dan khitbah arah pembicaraannya lebih ditujukan untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuannya tentang Islam. Caranya bisa lewat diskusi via email, telepon, sms, pemberian artikel/tulisan yang dibuat sendiri dll. Apa yang didiskusikan?? Bisa terkait isu2 terbaru (kesehatan, politik, ekonomi, pendidikan dll), studi kasus, analisis berita dsb. Sampai sini, kira2 bisakah kita dikatakan sebagai orang yang sudah mempersiapkan diri untuk menikah? *beri tanda centang pada kolom yang tersedia jika sudah…:D*

Berikut adalah 2 poin yang paling penting untuk di-detail-i dari orang yang akan dan sedang berproses dengan kita:
1. Tujuan dan Orientasi hidup
Yang dimaksud dengan tujuan dan orientasi hidup ini adalah visi dan misi. Visi terkait bagaimana seseorang memandang kehidupan. Apakah hidup hanya sekedar hidup di dunia kemudian kalau sudah waktunya mati ya mati, atau ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia, dan adakah sesuatu di balik kehidupan dunia. Ini penting sekali untuk diketahui karena pemahaman seseorang tentang visi hidupnya sangat berpengaruh pada penilaiannya terhadap sesuatu, terlebih penilaian terhadap sebuah pernikahan. Seseorang yang menjadikan Islam sebagai visi hidupnya akan sangat berbeda dengan orang yang menganut Kapitalisme-sekuleristik. Yang satu selalu berusaha mengikatkan diri pada aturan2 Islam, yang satu berusaha bertingkah seenaknya sendiri.
Jadi, seseorang harus punya gambaran yang jelas mengenai kehidupan, khususnya kehidupan rumah tangga yang akan dijalaninya, dan hal ini tidak bisa disiapkan secara mendadak.
Misi merupakan tujuan akhir dari kehidupan yang dijalaninya. Surga-neraka, bahagia-sengsara,atau hanya sekedar menjalani hidup tanpa tujuan yang pasti.
Orientasi hidup yang dimaksud di sini adalah orientasi seseorang dalam menjalankan segala aktivitasnya. Hal ini berkenaan dengan poros hidup seseorang. Ketika seseorang memutuskan pekerjaan sebagai poros hidupnya, maka segala aktivitas di luar itu akan di nomor sekiankan. Karena kita dengan ikhlasnya memilih Islam sebagai the way of life, maka mau tidak mau kita juga harus menjadikan Islam sebagai poros hidup.
Rasulullah bersabda,” Ingatlah, sesungguhnya poros Islam selau berputar, maka berputarlah sebagaimana ia berputar” (HR. Thabrani).
Hal ini bisa juga dimaknai agar kita selalu berorientasi pada implementasi Islam. Karena sekarang Islam belum bisa terimplementasikan secara sempurna, maka yang dijadikan poros hidup adalah perjuangan untuk mengimplementasikan Islam secara sempurna (nama bekennya dakwah alias menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar).Dan hal ini lah yang biasanya sangat penting untuk diketahui ketika menjalani proses ta’aruf. Karena apa? Akan sangat sulit bagi dua orang yang akan hidup bersama kalau poros hidupnya berbeda. Misal, yang satu poros hidupnya Islam, yang satu Kapitalisme-sekuleristik. Yang satu getol-getolnya berdakwah, yang satu getol2nya menghalang-halangi berdakwah. Yang satu ke timur, yang satu ke barat. Tidak akan pernah bersinggungan(bertemu). Susah bukan?? Kalau g percaya, coba aja!!
So, kira2 sudah mempersiapkan diri pada poin pertama?? *lha yang awal tadi belum dijawab sudah muncul pertanyaan lagi…bosen…*

2. Pola pikir.
Pola pikir adalah bagaimana seseorang berpikir tentang sesuatu. Standar apa yang dipakai dalam menilai dan mengomentari sesuatu. Yang termasuk di dalamnya adalah kaidah berpikir dan metode berpikir. Kaidah berpikir adalah apa-apa yang dijadikan dasar berpikir. Ini tidak jauh jauh berbeda dengan aqidah yang dipegang seseorang. Bagaimana seseorang menilai segala sesuatu pasti sangat dipengaruhi oleh dasar pemikiran yang dia gunakan. Contoh: 2 orang yang sedang duduk2 di halte bus, ketika melihat seorang perempuan memakai rok mini mungkin saja mempunyai penilaian yang berbeda terhadap perempuan itu. Yang satu menganggapnya sah-sah saja, yang satu beristghfar ria karena sudah merasa memandang sesuatu yang tidak seharusnya dia pandang.
Sedangkan metode berpikir adalah tata cara seseorang berpikir. *trus apa pentingnya membahas ini?? Bukannya setiap orang selalu berpikir? Metodenya pun paling2 juga sama…Iya kn?*
Berpikir adalah tata cara mengkaitkan fakta dengan informasi awal yang ada di dalam benak dan kemudian berdasarkan informasi awal itu, fakta tersebut ditafsirkan dan diju stifikasi. Oleh sebab itu, tata cara berpikir yang benar adalah menempatkan fakta sebagai obyek berpikir kemudian di nilai berdasarkan standar berpikir yang digunakan. Contoh : pada kasus ledakan bom di Ritz carlton dan JW Marriot yang dijadikan tersangka adalah Noordin M. Top (karena memang ada indikasi yang melakukannya dia.*katanya sie. Katanya berita*). Seseorang yang menjadikan fakta sekedar sebagai obyek berpikirnya akan berusaha menganalisis lebih jauh atas fakta2 yang ada dan mengaitkan dengan informasi2 lainnya yang sekiranya berhubungan dengan hal tersebut. Akan sangat berbeda dengan orang yang menjadikan fakta sebagai subyek pemikirannya. Orang yang seperti ini akan langsung menjustifikasi berdasarkan informasi yang saat itu ia terima. Mau dengan orang yang seperti ini??? Kalau mau ya tolong mulai sekarang siapkan tangki kesabaran dengan ukuran paling besar.
Nah, ini semua bisa diketahui saat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan calon kita. Oleh sebab itu, hati2 kalau ngefans dan pengen jadi istri/suami orang yang pinter….pasti bakal ditanya macam2!!

Kedua poin inilah yang kemudian saya sebut sebagai alasan paling logis ketika seseorang memutuskan untuk menikah. Tidak sekedar karena perasaan suka, tapi memang sacara akal calon suami/istri kita bisa dianggap layak.(Perlu diingat, 2 poin ini terlepas dari kesiapan seseorang untuk menikah secara fisik dan mental)

Maka dari itu, Bagi yg sekarang sudah merasakan ‘bunga2 cinta’,,patut direfresh cintanya itu sedalam apa(laut,kolam ikan atau comberan??:D),landasanny apa, trus alasanny apa*lho koq??ktanya kl cinta g butuh alasan…bukannya kl cinta pake alasan,bisa2 hubunganny g bkal brtahan lama??*>>>>itu hanya teori orang2 yang masih primitif alias orang2 yang pemahamannya masih belum genap!!!

Rasulullah:”seorang wanita dinikahi karena 4hal:harta,keturunan,kecantikan dan agamany. Maka utamakan agamanya”
Kebaikan agama itu seperti apa? Tergantung seberapa jauh pemahaman seseorang itu tentang Islam. Tidak cukup itu, akhlak akan membantu melengkapinya(karena akhlaklah yang paling nampak). Itulah jawabannya!!

Wallahu alam bi ash shawab…

Wassalam…

7 thoughts on “Ternyata, menikah tidak semudah dan sesimpel yang dibayangkan

  1. semakin sering aku baca ni tulisan jadi tambah takut aja untuk nikah.., tapi setidaknya memang diperlukan pemikiran yg matang untuk menghadapinya.., jadi ngiri ma pemuda2 di desa yg begtu simple memikirkan ttg nikah dan bgtu mudah yg mereka rasakan.., yah, semakin besar dan tinggi pemikiran kita maka semakin njlimet dan mikir macem2.., haha..

    • yang jelas pasti ada lah ketakutan tersendiri. Tapi masa mau mbulet sama ketakutannya terus??

      Tinggi rendahnya manusia itu tergantung pada perilakunya, dan perilakunya itu tergantung pada pemahamannya. Jadi, sebenarnya g perlu takut, Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan kadarnya.
      Yang perlu digaris bawahi kan sebenrnya seberapa besar usaha kita utk menjadi seperti ap yang kita ingnkan.
      wallahu alam

      • fakta dilapangan desa (?) banyak para pemuda disana yg bahkan ‘hanya’ sebagai buruh petani pun bisa dengan mudah menikah, tak jarang orng seusia saya (10 rab awal nanti udah 22) udah menikah dengan gadis seusianya,, alangkah sederhananya mereka menyempurnkn separuh agamanya, jika diteliti pemahaman agamanya pun ada yg masih awam., sedangkan banyk diantara kita yg ktanya aktivis pun klo ditanya kapan nikah, kita hanya tersenyum saja dan meminta doa..,

        apakah para pemuda didesa itu juga memahami apa yg tertulis di uraian ant di ats??
        sungguh sy ,erasa iri dengan kesederhanaan mereka –“

      • pertanyaan yg sensitif…, salah pula pertanyaannya…, klo tanya gtu mah mana ada yg tau seluruh penduduk bumi –”

        klo tanya rencana baru beda lagi.. emg kenapa?? perlu sy jawab??

        orng desa?? ant kan udah setahun lebih di kota jadi ga bisa dikatakan orng desa lagi, klo ngomong2 desa pun sy juga pemuda desa lha rumah saya tepat di desa kemiri kecamatan sidoarjo kota🙂 haiyo, tambah aneh toh desa kok di tengah kota –“

      • sy cuma mencoba membalik pertnyaan. katanya aktivis kl ditnya mslah nikah jwabnya cuma senyum, ^_^

        mknya sy tnya bgtu.

  2. ada pertanyaan dasar nih,, bagaimana kita bisa menilai pola pikir sesorang? lebih mudahnya kira2 pertanyaan seperti apa yg bisa kita ajukan agr kita bisa menilai pola pikir orng tersebut apa perlu membaca bahasa tubuh nya, gaya komunikasinya atau apa??

    maaf, sy cukup paham dengan pentingnya pola pikir terhadap penilaian sesorang, tapi sy kurang begtu paham bgaimana cara mendapatkan atau membaca mindset orng tersebut.., afwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s