Author Archives: Meyra Kaha

About Meyra Kaha

someone who loves Islam as the way of life

Justice And Sacrifice

Keadilan di era saat ini begitu abstrak. Sederhananya, keadilan yang nyata itu tidak benar –benar ada, tak bisa digapai, bahkan bagaikan suatu utopia abadi bagi orang-orang yang tak berdaya dan tak berkuasa. Iya? Hmm hmm Hmm, Iya, bukan? Jawablah, kawan!

Awas Barang kramat!!

Ingatlah, ketika agama di anak tirikan, selamanya kehidupan akan berantakan. Inilah pangkal masalah utopia keadilan di semua Negara. Pertama, dalam ranah individu, ketika agama dilupakan, maka kesewenang-wenangan akan mudah dilakukan, kejahatan akan sangat mudah dijalankan, apalagi ketika ada kesempatan.

Kedua, dalam ranah social kemasyarakatan, ketika norma agama tidak diutamakan, maka kedzaliman dan penindasan terhadap keadilan akan mudah diwajarkan(ditolerir-red). Ketika keadilan sudah dianggap semakin jauh dari kenyataan, maka masyarakatpun akan semakin menganggap bahwa keadilan itu hanya omong kosong belaka. Efeknya, muncullah kelompok seeking justice [1] yang suka main hakim sendiri, tak peduli lagi apakah tindakannya benar atau sebaliknya, prinsip mereka : keadilan harus ditegakkan, tak peduli jika itu harus memakan korban!

Ketiga, penindasan terhadap keadilan akan lebih mudah dengan tidak tegasnya peran Negara dalam mengatasi pihak-pihak yang “haus darah”, buta norma, dan gila kuasa. Karena kata orang gila ini, “Saya bisa membeli semuanya, bahkan kepala Negara sekalipun. There is nothing justice, but there is money as a power can buy justice, and works by transforming a wrong thing into a right thing”  [2]

Di sinilah berperannya Negara. Ia menjaga sekaligus memaksa. Dan, tatkala Negara tak punya agama sebagai landasan penjagaannya, maka ia sama halnya penjara yang hanya akan menghasilkan orang-orang yang gampang “bringas” dan terkesan tak waras [3]. Tak heran jika Imam Ghazali menuliskan:

Maka kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi/pokok-nya (ushul) sedangkan penguasa adalah penjaganya. dan apa2 yang tidak ada pondasinya maka dia akan runtuh sedangkan apa2 yang tidak memiliki penjaga maka dia akan lenyap

tidak seperti ini penggambaran yang sebenarnya :)

Jadi, bagi orang-orang yang menginginkan keadilan dan kebenaran tegak kembali di dunia, maka kembalikan keberadaan agama di tengah-tengah kehidupan manusia. Kembalikan Islam sebagai satu-satunya agama dan aturan yang layak menjadi landasan interaksi antar manusia, menghapuskan segala bentuk manipulasi keadilan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya melalui kekuasaan dan uangnya.

Susah? Memang! Namun apalah artinya susah yang sementara dibandingkan dengan balasan kebahagiaan yang Ia janjikan atas tegaknya Dinul Haq-Nya? Sometimes, we need to sacrifice something for the right path, and it seems to be. So, we have to sacrifice a thing we have.

Salam revolusi keadilan dan kebenaran!

___________

Note:

[1] Kelompok Seeking justice  adalah sebutan bagi orang-orang yang  “tidak terima” atas ketidak adilan yang dilakukan oleh seseorang/ oknum tertetu. Biasanya tindakan yang dilakukan adalah tindakan anarkis dan menjurus pada tindakan penyiksaan hingga pembunuhan pada target sasaran.

[2] Kata-kata ini terinspirasi dari sebuah serial drama politik bergenre comedy berjudul  “King 2 Heart”

[3] Tak waras yang penulis maksdukan adalah tak sewajarnya dilakukan oleh manusia yang masih menggunakan akal sehatnya dengan standar kebenaran tertentu. Orang-orang yang tak waras bisa langsung dinisbahkan pada mereka yang suka korupsi, ke tempat prostitusi, kolusi, dan mengkhianati rakyat sendiri.


The More I Know, The More I Hate

It will be better if we don’t see each other.
Because, the more I know you, the more I hate you, the more I fed you up, the more I wanna throw you.
The first time I knew you, I had felt that you’re the ideal one, the best one among the others. But, now I know you’re the scariest one,

Belajar melankolis ternyata sangat gampang. Dengan melihat status-status dan melihat film romantis saja saya sudah bisa melakukannya. Hehe..
Continue reading


Minat Baca dan Kebutaan

 

Laporan Human Development Report tahun 2008/2009 yang dikeluarkan UNDP, menyatakan minat membaca masyarakat di Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Kondisi ini sejajar dengan Bharain, Malta dan Suriname. Di Asia Tenggara, hanya ada dua Negara di bawah Indonesia, yaitu Kamboja dan Laos.(SuaraPembaruan)

Syok? Tidak lah! Kebanyakan masyarakat (Indonesia) saat ini memang lebih rela waktu luangnya habis untuk Ber-HPan ria, searching, googling, main internet, nge-games melalui fitur-fitur Hp canggih, online ngobrol ke sana kemari berjam-jam (1). That’s why BB (Blackberry) is in demand here (2). Karena semua orang high class technology-minded, tanpa diimbangi dengan mencanggihkan otaknya. Lol~ Itu di satu sisi saja, sementara di sisi lain, sebanyak 30% masyarakat Indonesia terancam mengalami kelaparan. Sederhananya, orang yang kelaparan tidak akan pernah memikirkan hal selain “BAGAIMANA HARI INI SAYA BISA MAKAN”. Image

Maka, jangan heran jika minat baca di Indonesia sangat rendah. Terlebih lagi, negara kurang memfasilitasi rakyat miskin untuk mengenyam pendidikan selevel perguruan tinggi. Hal ini sangat jelas bagi kita yang mau menengok berapa biaya pendidikan di PT (Perguruan Tinggi) saat ini. Berapa kawan-kawan? Tentu Anda sendiri yang bisa menjawabnya, karena masing-masing kepala akan dikenai biaya yang berbeda dalam system pendidikan kita saat ini.

Begitulah! Pemerintah kita terlalu menuntut warganya untuk meningkatkan minat baca, meningkatkan kreatifitas, inovasi, kedisiplinan, dan etos kerja. Mereka boleh menuntut warganya, sementara warganya dilarang keras menuntut pemenuhan hak-haknya. Saat rakyat menuntut, penguasa dan para wakil rakyat bisanya hanya berkelit, “Seharusnya masyarakat bisa memahami kondisi keuangan negeri kita saat ini, seharusnya bisa ikhlas menerima kebijakan ini, blah blah blah..”. [what’s your comment about it?]

Namanya ini pendzaliman tersistem! Pembungkaman aspirasi secara barbar oleh penguasa kepada rakyatnya. Warga biasa hanya bisa menuntut, sementara para pemikirlah yang dijadikan batu loncatan untuk menyampaikan suara tuntutan rakyat terhadap penguasa. Tapi toh para pemikir yang sudah disibukkan dengan dunianya sendiri tidak peka. Minat baca rendah, gaya hidup individualistis, hedonis, kapitalistis-materialistis menyebabkan mereka buta dan tuli terhadap semua permasalahan yang ada.

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Apa reaksi kita saat saudara-saudara sekitar kita melolong menuntut pemenuhan hak-haknya terhadap penguasa? Berani bicara atau diam saja? Berani memfokuskan pandangan ke sana apa berpura-pura buta?

Jawaban saya serahkan kepada Anda! Answer it with your deepest heart, then you’ll realize! Furthermore, what’s the solution of yours?

[1] Pada survei yang dilakukan firmcomScore Juni 2010 didapati data, sebanyak 20% dari 45 juta populasi pengguna akses situs jejaring social Twitter, berasal dari Indonesia. Inilah yang menyebabkan RIM (Research In Motion) memanfaatkan peluang pemasaran BB di Indonesia. [2]Diperkirakan saat ini pengguna telepon genggam canggih tersebut di Tanah Air telah mencapai lima juta (http://www.suarapembaruan.com/inovasi/rim-2015-pengguna-blackberry-di-indonesia-capai-97-juta/15497) Suara pembaruan, 2012)

 


Ekskresikan Ekspresimu! (Episode Respect)

Menulis adalah mengekskresikan ekspresi yang terpendam atau tertunda penyalurannya. Maka dari itu, sebelum dan setelah saya bertemu seseorang untuk melimpahkan segala ekspresi kekesalan saya selama magang di Puskesmas, saya akan menggerutu:

“Aku ingin segera keluar dari neraka ini!!”
“Puskesmas ****, What the **ll!!!!!!!!!! What a horror! Even if I can enter into that ‘puskesmas’ freely, I will throw away it easily! I don’t wanna be bad person in this office! I don’t want it anymore, not now not ever!! ”

Untuk apa bekerja dengan instansi yang dipimpin dengan tangan besi, suka membentak dan mempermasalahkan kesalahan bawahan?? Siapa juga yang mau bekerjasama dengan orang-orang yang tidak bisa menghargai juniornya, selalu memandang sebelah mata pada orang-orang baru?

Sorry ya, hidup saya akan lebih berharga bersama orang-orang yang mau menghargai dan saya pun tak segan untuk menghargainya. Karena hidup adalah rentetan dari hukum alam dan aksi reaksi yang setimbang. If you want someone gives you any respect, so you have to give respect first. Then sometime everyone will give respects to you naturally without you ask them.

Alhamdulillah, lega sekarang. Inilah yang dinamakan mengekskresikan ekspresi yang tak terkendali!

Thanks to Mbak Indah yang sudah memberikan nasihat dan bersimpati pada seorang yang frustasi ini.
SBY, 16-03-2012


Untitled 1

Teguran Allah itu mahal. Tak jarang teguran itu harus memakan “korban” berupa nyawa seseorang yang ada di sekitar kita, tak jarang pula seseorang itu merupakan orang terdekat kita.

Pasti kita sering membicarakan hal seperti ini dengan teman atau saudara kita:

“Padahal tadi pagi aku baru saja ngobrol dengannya, tapi sekarang dia sudah tidak ada. Cepat sekali, ya!?”

Contoh percakapan tersebut seringkali kita alami, namun apa yang bisa diambil oleh seorang manusia dari kejadian yang baru saja menimpanya  (atau menimpa tetangganya)? Sangat sedikit! Bisa saya katakan sangat sedikit!  Apalagi jika orang yang diambil nyawanya adalah orang yang sangat jauh darinya, pasti kematian bagaikan berita angin lalu yang hanya sekedar mampir untuk mengibaskan bulu mata umat manusia. Manusia akan benar-benar terpukul dan menyesal jika hal tersebut terjadi pada orang-orang terdekatnya. Setidaknya saya mengalaminya sehingga saya bisa mengatakan bahwa teguran Allah memang benar mahal adanya. Sangat mahal!

Saya terlalu santai untuk menunda waktu “menunjukkan” jalan bagi seorang teman dekat kepada Islam. Saya sering berharap suatu saat nanti bisa melihatnya bersyahadat dan memeluknya dengan erat. Namun apa yang saya lakukan sama sekali tidak berguna. Diskusi hanya berhenti pada tataran praktis bagaimana wujud ibadah masing-masing dari kami.  Selebihnya hanya kami nikmati dengan bercanda, berbagi cerita suka dan duka baik dalam perkuliahan maupun di luar perkuliahan.

Ya Allah, I’ve done nothing! I’ve done nothing while she’s still alive, even I couldn’t nothing after her death!

Useless!

Saat dia masih hidup, saya tidak melakukan apa-apa untuknya! Dan setelah kepergiannya, saya tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar mendoakannya pun saya tak kuasa.  Itulah yang membuat saya semakin merasa terpukul dan masih tidak bisa berhenti menyesali (mungkin apa yang dirasakan oleh Rasulullah saat ditinggal pamannya juga tidak jauh berbeda. Bahkan jauh lebih sakit).

Akhirnya saya benar-benar tersadar bahwa teguran Allah memang begitu mahal. Allah menegur saya melaluinya, melalui seorang teman yang selama ini selalu menemani hari-hari saat studi di fakultas ini. Senyumnya, gerutunya, marahnya, canda tawanya dan semuanya masih teringat jelas dalam kepala saya hingga satu bulan kepergiannya. Dan mungkin tidak akan pernah terlupakan sebagai kesalahan terbesar dalam kehidupan saya.

Kawan, jika saat ini kamu masih ada, apa yang sekarang kita bicarakan? Apa yang akan kita lakukan? Image

Sby, 10–3-2011


Kematian dan Perpisahan

Apakah seseorang dipertemukan untuk dipisahkan? Jika Allah memfirmankan “akan ada kemudahan setelah kesusahan” , berarti Allah pasti mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain, yang sifatnya berkebalikan. Pendek kata, setelah pertemuan tentu akan ada perpisahan. Apakah memang seperti ini?

Klise memang, tapi kebanyakan orang mengatakan bahwa setelah pertemuan akan ada perpisahan. Jadi, tidak salah jika saya berpikiran bahwa ketika seseorang dipertemukan, maka cepat atau lambat ia akan dipisahkan. Masalah bagaimana caranya berpisah, tak ada satupun yang tahu. Ada yang berpisah karena pertentangan, kondisi yang berbeda, namun tak jarang berpisah karena kematian. Dan yang terakhir adalah jenis perpisahan yang teramat menyakitkan bagi setiap orang.
Continue reading


Philosophy

Tidak satupun manusia yang bisa menyelami dan mengerti akhir dari skenario illahi, namun satu yang pasti, apa yang Ia beri selalu menjadi sesuatu yang terbaik untuk setiap orang yang meyakini.

Terkadang menangis dibuatnya,
Tak jarang tersenyum karenanya,

Hanya orang-orang yang berhati besarlah yang mampu mengambil pelajaran atas apa yang terjadi padanya. Entah dari kesedihan, maupun dari kebahagiaan yang dirasakan. Ujian merupakan hal thabi’i dalam kehidupan manusia, dan tak seorang pun yang bisa menghindari.

“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” (TQS. Al-An’am [6]: 80)

maka, apa lagi yang bisa dilakukan oleh manusia selain bertawakal dan berdoa kepadaNya? Karena ilmu manusia tidaklah bisa menjangkau apa yang terbaik untuknya. Jika ujian merupakan jalan agar manusia selalu mengingatNya, bisa jadi memang itulah yang terbaik. [Skip: bisa jadi]. Yakinlah memang itu yang terbaik.

Surabaya, 4 Februari 2012, in tears. After hearing bad news about Christina Fernanda. Hope you get the best.. Semuanya menunggu kesembuhanmu, kawan. Terkadang keajaiban datang dari arah yang tak terduga..


Rapuh

Kerapuhan adalah murni dari dalam diri seseorang. Perasaan rapuh dan tidak berdaya seringkali menyelimuti manusia yang menyadari ketidaksempurnaannya dan keterbatasannya tatkala menghadapi suatu cita yang besar. Beragam hambatan serasa duri yang menembus daging, terasa pahit dirasa, bahkan sangat menyeramkan meski hanya dilihat sekilas oleh mata.

Perasaan rapuh murni dari dalam diri seseorang, dan akan semakin parah jika lingkungan sekitar mendukungnya untuk tidak mau bangkit berdiri dan melepaskan keterpurukannya dari dalam jurang kerapuhan.
“Maka sesudah ada kesulitan akan ada kemudahan”. Begitulah firman Allah dalam Surat Alam Nasyrah 5-6.

Maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk terus berdiam diri dan membiarkan rasa segan menyelimuti saat menghadapi cobaan dan kegagalan. Rapuh dalam langkah adalah hal yang lumrah, namun ketika rapuh membinasakan diri dan menenggelamkan dalam jurang keputusasaan, sungguh itu merupakan masalah yang “wah”.
Mari sejenak mengingat kalimatullah berikut:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (TQS Yusuf :87).

Dari seorang yang tak sempurna menyambut kalian lewat untaian kata. 12 Januari, 2012, di tengah-tengah pengerjaan proposal skripsi yang cukup melelahkan. Hope u all get the best by doing the best.


Belief to Allah 100%, but….

Hampir setiap muslim menyatakan bahwa dirinya memiliki keyakinan 100% pada Allah SWT. Saya percaya karena buktinya masih banyak orang yang bisa ngomong, “Ya, semuanya saya serahkan pada yang di atas” (terlepas ada siapa di atasnya) atau ngomong semisal, “Rezeki itu kan sudah ada yang ngatur”. Dari hal-hal yang sederhana itulah bisa dilihat bahwa banyak yang yakin pada keberadaan Sang Pencipta, yang bagi orang muslim Pencipta itu adalah Allah SWT.

Kalian bisa lega mendengarnya (-membacanya), namun jangan terlalu bahagia dulu, gulung-gulung senang gak karuan terlebih dahulu sebelum membaca kelanjutannya. Keyakinan orang pada keberadaan Sang Pencipta memang bisa mencapai 100%, namun bagaimana dengan keyakinan akan keberadaan Pencipta yang mengatur kehidupannya? Mencapai 100%? Entahlah! Continue reading


Habit

The more you keep doing something, the more you can’t escape to not doing it. Do you know why? Because it becomes a habit, and you’ll feel so hard to change it.
That’s why we have to be careful not to let us doing something useless/bad because once we tolerate it, we’ll be able to do it again in the future so easily. Especially, something that will bring us into the hell.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.